Selasa, 02 Februari 2016










Pendahuluan
Sepanjang sejarah dunia belum pernah terjadi satu waktu dimana hubungan antara Timur dan Barat menjadi perhatian yang kuat dan langsung bagi seluruh manusia. Untuk pertama kali dalam sejarah tertulis, sains modern dan teknologi telah menciptakan contoh yang universal tentang peradaban. Kita hidup dalam masyarakat dunia yang memerlukan pemahaman terhadap kebenaran.
Filsafat Timur merupakan sebutan bagi pemikiran-pemikiran filosofis yang berasal dari dunia Timur atau Asia, seperti Filsafat Cina, Filsafat India, Filsafat Jepang, Filsafat Islam, Filsafat Buddhisme, dan sebagainya. Masing-masing jenis filsafat merupakan suatu sistem-sistem pemikiran yang luas dan plural. Misalnya saja, filsafat India dapat terbagi menjadi filsafat Hindu dan filsafat Buddhisme, sedangkan filsafat Cina dapat terbagi menjadi Konfusianisme dan Taoisme. Belum lagi, banyak terjadi pertemuan dan percampuran antara sistem filsafat yang satu dengan yang lain, misalnya Buddhisme berakar dari Hinduisme, namun kemudian menjadi lebih berpengaruh di Tiongkok ketimbang di India. Di sisi lain, filsafat Islam malah lebih banyak bertemu dengan filsafat Barat. Akan tetapi, secara umum dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan sebutan "Empat Tradisi Besar" yaitu Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme.
Kita berusaha untuk memahami beberapa kepercayaan tentang Tuhan, manusia dan alam yang telah menjadi dasar dari perdaban yang mantap dan seni yang indah di Asia. Kita harus selalu ingat bahwa filsafat Timur adalah way of life. Didalam pemakalah kali ini kami akan menerangkan beberapa filsafat yang berasal dari timur.

Filsafat Tionghoa
a.       Sifat – sifat filsafat Tionghoa
            Yang menjadi pusat perhatian dalam filsafat Tionghoa (Hzu tzu , atau Hsuan – Hsueh , atau Tao – hseh   ) yaitu kelakuan manusia , sikapnya terhadap dunia yang mengelilingnya dan sesama manusianya.
            Bagi filsuf – filsuf Tioghoa manusia dan dunia merupakan satu kesatuan , satu “kosmos” kesatuan mana tak boleh di ganggu oleh perbuatan – perbuatan manusia yang tidak selayaknya . Hanya kalau tata dan kesatuan yang ada itu tetap terpelihara , semua orang akan selamat , maka yang di tinjau oleh filsuf – filsuf Tionghoa ialah : bagaimanakah sikap – sikap orang terhadap dunia , terhadap sesamanya manusia dan terhadap “surga” . Agar manusia tetap dalam hubungan yang harmonis dengan dunia , manusia dan “surga”.
Yang di titik beratkan ialah :
1.      Etika , bukanlah logika atau metafisika.
2.      Sistem , sistem filsafat.
b.      Periode para filsuf :
a.       Alam pikiran sebelum Confucius .
Mengakui adanya Tuhan. Tuhan yang Maha Tinggi yang mengatasi segala ruh – ruh.
Disebut zaman keemasa. Dalam suasana inilah timbul Filsafat Tionghoa.
b.      Confucius dan Confucianisme .
Adalah nama latin Kung Fu Tzu . Menurutnya kekacauan sosial adalah akibat ditinggalkannya adat istiadat dan tata masyarakat kuno.
c.       Mo Tze dan mashab Mohist .
Mo Tze dan mashabnya memepunyai pengaruh yang penting . Ia mengajarkan “cinta” kepada sesama manusia yang universal sebagai dasar filsafatnya.
d.      Lao Tze dan mashab Taoisme .
Lao Tze dengan bukunya yang terkenal : Tao Te Ching menitikbratkan selalu berubahnya kenyataan.
e.       Dialektisi .
Perhatian besar untuk teori – teori pengetahuan dengan kegemaran untuk membuat para doks – doks.
f.       Mashab Hukum.
Hukumlah yang merupkan asas persatuan suatu negara seluruh kekuasaan harus dipusatkan di tangan Raja.
g.      Periode Pengetahuan Klassik.
Dalam periode ini terutama  terdiri dari interpretasi dari penafsiran tulisan – tulisan para filsuf klassik , baik Confucius maupun Taoisme dan Buddhisme.
Filsafat India
            Filsafat (darsana) dalam tradisi Hindu berarti: “melihat kebenaran” dan menggunakannya untuk problema hidup sehari-hari. Bagi pemikir-pemikir India tujuan mempelajari filsafat bukan sekadar untuk memperoleh pengetahuan atau rasa ingin tahu, akan tetapi untuk mengungkapkan jenis kehidupan yang tertinggi serta menghayatinya, yakni kehidupan yang akan membawa berkat atau realisasi jiwa. Seseorang harus mungungkapkan kebenaran pokok untuk dirinya, ia tidak boleh menerima pengetahuan karena kepercayaan yang buta, atau dari kesaksian orang-orang lain. Hanya jika seseorang mempunyai keyakinan serta hidup dengan mengikuti keyakinan tersebut, ia menjadi filosof benar-benar. Dalam Hinduisme adalah sangat sukar untuk memisahkan filsafat dan agama.
Filsafat India lebih menyerupai “ngelmu” daripada “ilmu”, lebih merupakan ajaran hidup yang bertujuan memaparkan bagaimana orang mencapai kebahagiaan yang kekal. Berlainan dengan sikap Yunani (yang dikatakan: obyektif, rasional teknis) maka orang India lebih subyektif, lebih mementingkan perasaan, penuh dengan rasa kesatuan dengan alam dan dunia yang mengelilinginya.
            Di India terkenal dengan agama Hindu, di dalam agama Hindu mempunyai sumber keterangan yang terdapat persoalan-persoalan mengenai dunia dan manusia ianya terdapat di dalam kitab weda.
            Menurut keyakinan Hindu isinya diwahyukan kepada para resi, para brahmana dan para guru. Daripada dewa tertinggi, yang kemudian di bukukan di dalam kitab weda tersebut setelah berabad-abad, dan jarak wahyunya dan pembukuan kitab weda tersebut dari tahun 2000 SM hingga 500 SM, jaraknya sekitar 1500 tahun.
            Dan di dalam kitab tersebut terbahagi kepada tiga macam jenis, yaitu:
1.      Weda Samhita:
Adalah suatu pengumpulan mantera-mantera yang berbentuk syair, yang dipergunaan untuk mengundang dewa dan disertai oleh persembahan korban, agar dewa tersebut berkenan menghadirinya dan ini juga ada dihubungkan dengan tenung dan sihir dan segala hal yang berhubung dengan magic hitam.

2.      Brahmana:
Bagian kedua kitab weda, berbentuk prusa, yang berisi peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban keagamaan, terlebih-lebih keterangan yang mengenai korban.

3.      Upanisad:
Berbentuk prosa, dan diwahyukan setelah zaman brahmana, bagian ini berisi keterangan-keterangan yang mendalam mengenai asal-usul mula alam semesta serta segala isi, terlebih-lebih yang mengenai manusia dan keselamatannya.
Filsafat Jepang
Istilah filsafat di Negara Jepang disebut Kitetsugaku yang berarti ilmu mencari kebenran /kebijaksanaan. Istilah ini diperkenalkan oleh Nishi Amane (1829-1897) pada tahun 1862. 12 tahun kemudian untuk memenuhi standar, ia menyingkat istilah tersebut menjadi Tetsugaku. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dirasakan menguntungkan untuk Jepang, sebagai suatu kondisi yang diperlukan untuk membangun masyarkat modern.
Tetsugaku adalah kata dalam bahasa Jepang untuk filsafat. Terdapat tiga fakta dasar tentang filsafat Jepang:
1.      Filsafat Jepang dimulai pada era Meiji dengan mengkombinasikan konsep-konsep Konfucius dan Bhuda yang kemudian menjadi Tetsagaku.
2.      Logika empirisme diperkenalkan setelah Perang Dunia Kedua, departemen Sejarah dan Filsafat Ilmu pada Universitas Tokyo didirikan pada tahun 1951 yang merupakan satu-satunya departemen dalam bidang itu sampai tahun 1993.
3.      Filsafat ilmu beraliran Marx muncul pada tahun 1930-an dengan tokoh utamanya bernama Mirsuo Taketani (1911-2000) seorang fisikawan yang mempublikasikan Doktrin Tiga Tahap Pengembangan Ilmu pada tahun 1936. Tokoh lainnya adalah Hideki Yukawa, orang Jepang pertama yang menerima hadiah Nobel pada tahun 1949 dalam bidang fisika-yang menulis makalah tentang partikel baru yang disebut “meson”.
Tetsugaku digunakan untuk mengambarkan bahw orang-orang Jepang terkadang pemilih terhadap hal-hal yang dapat membantu pembangunan masyarakat modern, terkadang muncul ketiakpercayaan akibat hilangnya spiritualitas dan munculnya ancaman yang bersifat etnosentris karena mereka tidak terbiasa dengan hal-hal yang baru.
Keberadaan sejarah filsafat di Jepang tidak cukup untuk membuktikan bahwa filsafat Jepang cukup dikenal. Dapat dikatakan bahwa filsafat yang ada di Jepang dapat diadopsi dari filsafat Cina. Jepang tidak memiliki filsafat asli.

Filsafat Islam
            pada abad ke-7 hinnga ke -12. Di dalam kurun lima abad itu para ahli pikir Islam merenungkan kedudukan manusia di dalam hubungannya sesama, dengan alam, dan dengan tuhan, dengan menggunakan akal fikirannya. Mereka berpikir secara sistematis dan analitis serta kristis sehingga muncullah para ahli filsuf muslim yang mempunyai kemampuan tinggi kerana kebijaksanaannya.
Dalam kegiatan pemikiran filsafat tersebut, terdapat dua macam (kekuatan) pemikiran, yaitu:
a.       Para ahli pikiran Islam berusaha menyusun sebuah sistem yang disesuaikan dengan ajaran Islam
b.      Para ulama menggunakan metode rasional dalam menyelesaikan soal-soal ketauhidan.
Timbulnya aliran pemikiran filsafat didorong oleh beberapa perbedaan, yaitu:
a.       Persoalan tentang Zat Tuhan yang tidak dapat diraba, dirasa, dan dipikirkan.
b.      Perbedaan cara berpikir.
c.       Perbedaan orientasi dan tujuan hidup.
d.      Keyakinan yang buta atas dasar suatu pendirian walaupun diyakini tidak benar lagi.
Pembagian Aliran Pemikiran Filsafat Islam ini dapat berdasarkan pada hubungan dengan sistem pemikiran Yunani, sebagai berikut:
a.       Periode Mu’tazilah.
Periode ini berawal dari abad ke-8 sampai abad ke-12, yang merupakan sebuah teologi rasional yang berkembang di Baghdad dan Basrah. Golongan ini memisahkan diri dari Jumhur “ulama” yang dikatakan menyeleweng dari ajaran Islam.
b.      Periode filsafat pertama.
Periode ini berawa pada abad ke-8 sampai ke-11,memakai pemikiran Islam yang berdasarkan pada pemikiran Hellenisme, seperti Al-kindi,  Ar’ razi , Al-farabi, dan Ibnu Sina.
c.       Periode Kalam Asy’ari.
Periode ini berawa dari abad ke -9 sampai ke-11, pusatnya di baghdad. Aliran pemikiran ini mengacu pada sistem Elia (Atomistis). Sistem ini mempunyai dominasi besar, sejajar dengan sunnisme (ahli sunnah wa jama’ah)
d.      Periode filsafat kedua.
Berawal dari abad ke -11 sampai ke-12 yang berkembang di Spanyol dan Magrib. Aliran ini mengacu pada sistem peripatetis. Tokohnya Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd.

Penutupan
            Maka didalam pemakalah kali ini kita mendapati bahawa perkembangan filsafat yang berlaku di timur ini kerana ingin mencari kebenaran akan suatu agama yang mereka anuti atau yang mereka percayai. Dan dengan makalah ini juga kita dapat tahu akan agama-agama yang berada di timur ini ianya bermulai dari pemikiran seseorang dan hanya satu agama sahaja yang hakikatnya dating dari langit atau dari tuhan sendiri.


           
Refrensi:
1.      Hadiwijono,  Dr. Harun, Sari Filsafat India, Kwitang, Jakarta Pusat, 1985.
2.      Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum, Rajawali Pers, Jakarta, 2013.
3.      Salam, Drs. Burhanudin, Pengantar Filsafat, Bumi Aksara, Jakarta, 2012

4.      http:/imicikiciw.blogspot.in/2011/06/filsafat-jepang.html, diakses pada tanggal 2.11.2015 pada pukul 8.33 W.I.B

Tidak ada komentar:

Posting Komentar