

Pendahuluan
Sepanjang sejarah dunia belum pernah terjadi satu
waktu dimana hubungan antara Timur dan Barat menjadi perhatian yang kuat dan
langsung bagi seluruh manusia. Untuk pertama kali dalam sejarah tertulis, sains
modern dan teknologi telah menciptakan contoh yang universal tentang peradaban.
Kita hidup dalam masyarakat dunia yang memerlukan pemahaman terhadap kebenaran.
Filsafat
Timur merupakan sebutan bagi pemikiran-pemikiran filosofis yang berasal dari
dunia Timur atau Asia, seperti Filsafat Cina, Filsafat India, Filsafat Jepang, Filsafat Islam, Filsafat Buddhisme, dan
sebagainya. Masing-masing jenis filsafat merupakan suatu sistem-sistem
pemikiran yang luas dan plural. Misalnya saja, filsafat India dapat terbagi
menjadi filsafat Hindu dan
filsafat Buddhisme, sedangkan filsafat Cina dapat terbagi menjadi
Konfusianisme dan Taoisme. Belum
lagi, banyak terjadi pertemuan dan percampuran antara sistem filsafat yang satu
dengan yang lain, misalnya Buddhisme berakar dari Hinduisme, namun kemudian
menjadi lebih berpengaruh di Tiongkok ketimbang di India. Di sisi lain, filsafat Islam malah
lebih banyak bertemu dengan filsafat Barat. Akan
tetapi, secara umum dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan
sebutan "Empat Tradisi Besar" yaitu Hinduisme, Buddhisme, Taoisme,
dan Konfusianisme.
Kita berusaha untuk memahami beberapa kepercayaan tentang Tuhan, manusia
dan alam yang telah menjadi dasar dari perdaban yang mantap dan seni yang indah
di Asia. Kita harus selalu ingat bahwa filsafat Timur adalah way of life. Didalam
pemakalah kali ini kami akan menerangkan beberapa filsafat yang berasal
dari timur.
Filsafat
Tionghoa
a.
Sifat – sifat filsafat Tionghoa
Yang menjadi pusat
perhatian dalam filsafat Tionghoa (Hzu tzu , atau Hsuan – Hsueh , atau Tao –
hseh ) yaitu kelakuan manusia ,
sikapnya terhadap dunia yang mengelilingnya dan sesama manusianya.
Bagi filsuf –
filsuf Tioghoa manusia dan dunia merupakan satu kesatuan , satu “kosmos”
kesatuan mana tak boleh di ganggu oleh perbuatan – perbuatan manusia yang tidak
selayaknya . Hanya kalau tata dan kesatuan yang ada itu tetap terpelihara ,
semua orang akan selamat , maka yang di tinjau oleh filsuf – filsuf Tionghoa
ialah : bagaimanakah sikap – sikap orang terhadap dunia , terhadap sesamanya
manusia dan terhadap “surga” . Agar manusia tetap dalam hubungan yang harmonis
dengan dunia , manusia dan “surga”.
Yang di titik beratkan ialah :
1.
Etika , bukanlah logika atau metafisika.
2.
Sistem , sistem filsafat.
b.
Periode para filsuf :
a.
Alam pikiran sebelum Confucius .
Mengakui adanya Tuhan. Tuhan yang Maha Tinggi yang mengatasi segala
ruh – ruh.
Disebut zaman keemasa. Dalam suasana inilah timbul Filsafat
Tionghoa.
b.
Confucius dan Confucianisme .
Adalah nama latin Kung Fu Tzu . Menurutnya kekacauan sosial adalah
akibat ditinggalkannya adat istiadat dan tata masyarakat kuno.
c.
Mo Tze dan mashab Mohist .
Mo Tze dan mashabnya memepunyai pengaruh yang penting . Ia
mengajarkan “cinta” kepada sesama manusia yang universal sebagai dasar
filsafatnya.
d.
Lao Tze dan mashab Taoisme .
Lao Tze dengan bukunya yang terkenal : Tao Te Ching menitikbratkan
selalu berubahnya kenyataan.
e.
Dialektisi .
Perhatian besar untuk teori – teori pengetahuan dengan kegemaran
untuk membuat para doks – doks.
f.
Mashab Hukum.
Hukumlah yang merupkan asas persatuan suatu negara seluruh
kekuasaan harus dipusatkan di tangan Raja.
g.
Periode Pengetahuan Klassik.
Dalam periode ini terutama
terdiri dari interpretasi dari penafsiran tulisan – tulisan para filsuf
klassik , baik Confucius maupun Taoisme dan Buddhisme.
Filsafat India
Filsafat
(darsana) dalam tradisi Hindu berarti: “melihat kebenaran” dan menggunakannya
untuk problema hidup sehari-hari. Bagi pemikir-pemikir India tujuan mempelajari
filsafat bukan sekadar untuk memperoleh pengetahuan atau rasa ingin tahu, akan
tetapi untuk mengungkapkan jenis kehidupan yang tertinggi serta menghayatinya,
yakni kehidupan yang akan membawa berkat atau realisasi jiwa. Seseorang harus
mungungkapkan kebenaran pokok untuk dirinya, ia tidak boleh menerima
pengetahuan karena kepercayaan yang buta, atau dari kesaksian orang-orang lain.
Hanya jika seseorang mempunyai keyakinan serta hidup dengan mengikuti keyakinan
tersebut, ia menjadi filosof benar-benar. Dalam Hinduisme adalah sangat sukar
untuk memisahkan filsafat dan agama.
Filsafat India lebih menyerupai “ngelmu” daripada “ilmu”, lebih
merupakan ajaran hidup yang bertujuan memaparkan bagaimana orang mencapai
kebahagiaan yang kekal. Berlainan dengan sikap Yunani (yang dikatakan:
obyektif, rasional teknis) maka orang India lebih subyektif, lebih mementingkan
perasaan, penuh dengan rasa kesatuan dengan alam dan dunia yang
mengelilinginya.
Di
India terkenal dengan agama Hindu, di dalam agama Hindu mempunyai sumber
keterangan yang terdapat persoalan-persoalan mengenai dunia dan manusia ianya
terdapat di dalam kitab weda.
Menurut
keyakinan Hindu isinya diwahyukan kepada para resi, para brahmana dan para
guru. Daripada dewa tertinggi, yang kemudian di bukukan di dalam kitab weda
tersebut setelah berabad-abad, dan jarak wahyunya dan pembukuan kitab weda
tersebut dari tahun 2000 SM hingga 500 SM, jaraknya sekitar 1500 tahun.
Dan
di dalam kitab tersebut terbahagi kepada tiga
macam jenis, yaitu:
1. Weda Samhita:
Adalah suatu pengumpulan mantera-mantera
yang berbentuk syair, yang dipergunaan untuk mengundang dewa dan disertai oleh
persembahan korban, agar dewa tersebut berkenan menghadirinya dan ini juga ada
dihubungkan dengan tenung dan sihir dan segala hal yang berhubung dengan magic
hitam.
2. Brahmana:
Bagian kedua kitab weda, berbentuk prusa,
yang berisi peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban keagamaan,
terlebih-lebih keterangan yang mengenai korban.
3. Upanisad:
Berbentuk prosa, dan diwahyukan setelah
zaman brahmana, bagian ini berisi keterangan-keterangan yang mendalam mengenai
asal-usul mula alam semesta serta segala isi, terlebih-lebih yang mengenai
manusia dan keselamatannya.
Filsafat Jepang
Istilah
filsafat di Negara Jepang disebut Kitetsugaku yang berarti ilmu mencari
kebenran /kebijaksanaan. Istilah ini diperkenalkan oleh Nishi Amane (1829-1897)
pada tahun 1862. 12 tahun kemudian untuk memenuhi standar, ia menyingkat
istilah tersebut menjadi Tetsugaku. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan
sesuatu yang dirasakan menguntungkan untuk Jepang, sebagai suatu kondisi yang
diperlukan untuk membangun masyarkat modern.
Tetsugaku
adalah kata dalam bahasa Jepang untuk filsafat. Terdapat tiga fakta dasar
tentang filsafat Jepang:
1.
Filsafat Jepang dimulai pada era Meiji dengan mengkombinasikan
konsep-konsep Konfucius dan Bhuda yang kemudian menjadi Tetsagaku.
2.
Logika empirisme diperkenalkan setelah Perang Dunia Kedua,
departemen Sejarah dan Filsafat Ilmu pada Universitas Tokyo didirikan pada
tahun 1951 yang merupakan satu-satunya departemen dalam bidang itu sampai tahun
1993.
3.
Filsafat ilmu beraliran Marx muncul pada tahun 1930-an dengan tokoh
utamanya bernama Mirsuo Taketani (1911-2000) seorang fisikawan yang
mempublikasikan Doktrin Tiga Tahap Pengembangan Ilmu pada tahun 1936. Tokoh
lainnya adalah Hideki Yukawa, orang Jepang pertama yang menerima hadiah Nobel
pada tahun 1949 dalam bidang fisika-yang menulis makalah tentang partikel baru
yang disebut “meson”.
Tetsugaku
digunakan untuk mengambarkan bahw orang-orang Jepang terkadang pemilih terhadap
hal-hal yang dapat membantu pembangunan masyarakat modern, terkadang muncul
ketiakpercayaan akibat hilangnya spiritualitas dan munculnya ancaman yang
bersifat etnosentris karena mereka tidak terbiasa dengan hal-hal yang baru.
Keberadaan
sejarah filsafat di Jepang tidak cukup untuk membuktikan bahwa filsafat Jepang
cukup dikenal. Dapat dikatakan bahwa filsafat yang ada di Jepang dapat diadopsi
dari filsafat Cina. Jepang tidak memiliki filsafat asli.
Filsafat Islam
pada abad ke-7 hinnga ke -12. Di dalam
kurun lima abad itu para ahli pikir Islam merenungkan kedudukan manusia di
dalam hubungannya sesama, dengan alam, dan dengan tuhan, dengan menggunakan
akal fikirannya. Mereka berpikir secara sistematis dan analitis serta kristis
sehingga muncullah para ahli filsuf muslim yang mempunyai kemampuan tinggi
kerana kebijaksanaannya.
Dalam kegiatan pemikiran filsafat tersebut, terdapat dua macam
(kekuatan) pemikiran, yaitu:
a. Para ahli pikiran Islam berusaha menyusun sebuah sistem yang disesuaikan
dengan ajaran Islam
b. Para ulama menggunakan metode rasional dalam menyelesaikan soal-soal
ketauhidan.
Timbulnya aliran pemikiran filsafat
didorong oleh beberapa perbedaan, yaitu:
a. Persoalan tentang Zat Tuhan yang tidak dapat diraba, dirasa, dan
dipikirkan.
b. Perbedaan cara berpikir.
c. Perbedaan orientasi dan tujuan hidup.
d. Keyakinan yang buta atas dasar suatu pendirian walaupun diyakini tidak
benar lagi.
Pembagian Aliran Pemikiran Filsafat Islam ini dapat berdasarkan pada hubungan
dengan sistem pemikiran Yunani, sebagai berikut:
a. Periode Mu’tazilah.
Periode ini berawal dari abad ke-8 sampai
abad ke-12, yang merupakan sebuah teologi rasional yang berkembang di Baghdad
dan Basrah. Golongan ini memisahkan diri dari Jumhur “ulama” yang dikatakan
menyeleweng dari ajaran Islam.
b. Periode filsafat pertama.
Periode ini berawa pada abad ke-8 sampai
ke-11,memakai pemikiran Islam yang berdasarkan pada pemikiran Hellenisme,
seperti Al-kindi, Ar’ razi , Al-farabi,
dan Ibnu Sina.
c. Periode Kalam Asy’ari.
Periode ini berawa dari abad ke -9 sampai
ke-11, pusatnya di baghdad. Aliran pemikiran ini mengacu pada sistem Elia
(Atomistis). Sistem ini mempunyai dominasi besar, sejajar dengan sunnisme (ahli
sunnah wa jama’ah)
d. Periode filsafat kedua.
Berawal dari abad ke -11 sampai ke-12 yang
berkembang di Spanyol dan Magrib. Aliran ini mengacu pada sistem peripatetis.
Tokohnya Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd.
Penutupan
Maka didalam pemakalah kali ini kita
mendapati bahawa perkembangan filsafat yang berlaku di timur ini kerana ingin
mencari kebenaran akan suatu agama yang mereka anuti atau yang mereka percayai.
Dan dengan makalah ini juga kita dapat tahu akan agama-agama yang berada di timur
ini ianya bermulai dari pemikiran seseorang dan hanya satu agama sahaja yang
hakikatnya dating dari langit atau dari tuhan sendiri.
Refrensi:
1. Hadiwijono, Dr. Harun, Sari
Filsafat India, Kwitang, Jakarta Pusat, 1985.
2. Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum, Rajawali Pers, Jakarta, 2013.
3. Salam, Drs. Burhanudin, Pengantar Filsafat, Bumi Aksara, Jakarta,
2012
4. http:/imicikiciw.blogspot.in/2011/06/filsafat-jepang.html, diakses pada
tanggal 2.11.2015 pada pukul 8.33 W.I.B

Tidak ada komentar:
Posting Komentar